Dua Korban Meninggal Saat Melintasi Sungai Bahau di Malinau

dua-korban-meninggal-saat-melintasi-sungai-bahau

Pemerintah pusat dan provinsi harus serius memperhatikan pembangunan di wilayah pedalaman dan perbatasan, jika tidak ingin terulang kejadian seperti yang menimpa Kristina Paimbonan.

Akses wilayah pedalaman dan perbatasan seperti di Kabupaten Malinau yang masih sulit dijangkau melalui jalur darat dan udara, membuat jalur sungai menjadi satu-satunya alternatif untuk bisa sampai ke tujuan. Itu pula yang dilakukan Kristina Paimbonan.

Namun, warga asal Toraja, Sulawesi Selatan yang berstatus pegawai tidak tetap (PTT) di Puskesmas Pujungan, Kabupaten Malinau ini, ditemukan sudah tidak bernyawa sejak jatuh pada 27 Oktober lalu, bersama pemilik longboat, Yonathan, yang lebih dahulu ditemukan. Longboat yang ditumpangi Kristina karam di Sungai Bahau yang memang rawan untuk dilalui.

Peristiwa ini membuat jajaran Dinas Kesehatan Malinau berduka, tak terkecuali Kepala Dinas Kesehatan Malinau Jhon Felix Rundupadang. Di matanya, Kristina dinilai pegawai yang menjunjung tinggi pengabdian.

“Tidak hanya atas nama Dinas Kesehatan, tapi atas nama Pemkab Malinau tentu sangat berduka dengan kejadian ini, karena cukup sulit mencari tenaga yang bersedia mengabdi di daerah seperti itu. Staf kita ini sampai kepala Desa Pujungan saja menganggapnya sebagai anak kandungnya. Jadi, kita sangat kehilangan dengan kepergiannya,” ujar Jhon Felix kepada Bulungan Post melalui telepon genggamnya, Kamis (10/11).

Informasi yang diperoleh Jhon Felix, Kristina Paimbonan baru ditemukan pada hari ke-13 pencarian, setelah jatuh pada 27 Oktober lalu, atau diperkirakan pada Rabu (10/11) malam.

“Sebenarnya, kita sudah dua kali pencarian. Tahap pertama delapan hari. Aparat desa dan seluruh masyarakat Pujungan mencari. Istirahat satu hari, hari kesepuluh dan 11 kita cari lagi. Hari ke 12 kita pulang lagi, hari 13 dengar kalau sudah ditemukan,” jelasnya.

Menurutnya, Kristina terpaksa melalui jalur sungai karena akses darat ke Tanjung Selor melalui Pujungan belum terhubung. Di sisi lain, subsidi penerbangan yang berkurang membuat akses untuk menggunakan pesawat udara sulit dijangkau karena mahal. Sehingga tidak ada pilihan lain selain harus melalui sungai. Untuk bisa mencapai Tanjung Selor, dibutuhkan waktu hingga satu setengah hari perjalanan.

“Kita berharap akses darat memang harus segera direalisasikan. Pemerintah Malinau dan Bulungan sudah lakukan. Malinau sendiri sudah menembus Long Alango dan Apau Ping. Kita berharap apa yang dirintis ini juga menjadi perhatian pemerintah provinsi dan pusat khususnya di perbatasan, karena kalau masih mengandalkan sungai, susah,” ungkapnya.

Kristina Paimbonan sudah tercatat sebagai PTT Dinkes Malinau sejak 2013 dan langsung mengabdi di Puskesmas Pujungan. Selama bekerja, Kristina dinilai tidak pernah mengeluh dengan penempatannya di daerah terpencil dan akses

sumber : bulungan.prokal.co

(Visited 15 times, 1 visits today)
author

Author: 

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.