Cara Mengklaim Asuransi Yang Tertimpa Pohon & Kecelakaan di Jalan

ilustrasi-asuransi_20150809_202946

Asuransi Kecelakaan Lalu Lintas

Selain tertimpa musibah pohon tumbang, kemungkinan kejadian nahas lain saat melintas di jalanan adalah kecelakaan di jalan raya. Kecelakaan lalu lintas telah memegang peringkat ketiga sebagai penyebab tertinggi kematian, menurut data dari Korlantas Polri pada 2014, terdapat tiga korban meninggal akibat kecelakaan lalu lintas per jamnya. Namun, sama hal dengan santunan musibah pohon tumbang, bantuan atau santunan kecelakaan lalu lintas yang telah dijamin oleh negara diketahui oleh banyak orang.

Sedikitnya informasi membuat publik tak mengetahui, bahwa sebenarnya saat seseorang tertimpa kecelakaan di jalan maka mereka dapat mengklaim santunan kepada asuransi Jasa Raharja. Pada UU No 33 tahun 1964 dijelaskan tentang iuran wajib dana pertanggungan bagi penumpang angkutan umum baik darat laut, udara, feri atau penyeberangan antar kota. Penumpang yang telah membeli karcis angkutan umum telah membayar premi termasuk dalam ongkos mereka. Dalam UU ini terdapat pengecualian yang mana angkutan dalam kota dibebaskan dalam iuran wajib premi.

“Hanya saja jika terjadi kecelakaan maka Jasa Raharja tetap memberi santunan sebesar yang diberikan pada penumpang antar kota,” kata Kepala Urusan Humas Jasa Raharja, M. Ferhat kepada tirto.id, Selasa (22/11/2016).

Para penumpang angkutan umum, sejatinya sudah terlindungi karena telah diasuransikan secara tidak langsung sebesar Rp60 per orang dalam sekali perjalanan. Besar santunan yang dapat diterima untuk korban meninggal mencapai maksimal Rp25 juta, untuk biaya perawatan maksimal Rp10 juta, dan untuk cacat tetap maksimalnya Rp25 juta.

Tak hanya kendaraan umum yang mendapat santunan, bagi pengguna kendaraan pribadi, setiap tahunnya juga telah membayarkan asuransi lewat pembayaran pajak STNK di Samsat setempat. Berdasarkan UU 34 Tahun 1964 tentang Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan (SWDKLLJ) berdasar ketetapan Menteri Keuangan RI No 36/PMK. 010/2008 dan 37/PMK. 010/2008 tanggal 26 Februari 2008, premi dikutip kepada siapapun yang mempunyai kendaraan baik umum maupun pribadi dibayarkan untuk pihak ketiga dalam hal ini korban tabrakan.

Asuransi di sini bukanlah asuransi untuk diri sendiri, melainkan untuk pihak ketiga yang menjadi korban apabila Anda lalai dan menimbulkan kecelakaan. Jasa Raharja, akan membayarkan santunan kepada korban tabrak, jika kecelakaan sama-sama menimpa dua kendaraan, maka santunan akan diberikan kepada keduanya.

“Kalau korban dirawat di RS ya akan ditanggung maksimal Rp10 juta, korban meninggal akan diberikan kepada ahli waris maksimal Rp25 juta. Tapi jika tak ada ahli waris maka hanya dibayarkan biaya kubur saja,” jelas Ferhat.

Untuk pencairan santunan, korban hanya cukup membawa surat keterangan dari Polres setempat, maka pencairan dapat ditunggu dalam hitungan jam. Namun klaim ini tak berlaku apabila yang terjadi adalah kecelakaan tunggal, misal terjatuh lantaran jalan berlubang, pihak Jasa Raharja tak bertanggung jawab memberikan santunan. Hanya saja, berdasar Pasal 1 angka 12 UU No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan penyelenggara jalan wajib segera dan patut untuk memperbaiki jalan yang rusak yang dapat mengakibatkan kecelakaan lalu lintas.

Para korban dapat mengajukan ganti rugi berdasar Pasal 236 ayat 1 UU No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yang menyatakan pihak yang menyebabkan terjadinya kecelakaan lalu lintas wajib mengganti kerugian yang besarannya ditentukan berdasar putusan pengadilan.

Merujuk pada Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2004 Tentang Jalan, Pasal 15 dan 16 yang dimaksud penyelenggara di sini adalah: (1) Pemerintah (Kementerian Pekerjaan Umum) yaitu Jalan Nasional (2) Pemerintah Provinsi (Dinas Pekerjaan Umum) yaitu Jalan Provinsi, (3) Pemerintah Kabupaten (Dinas Pekerjaan Umum) yaitu Jalan Kabupaten dan Jalan Desa, (4) Pemerintah Kota (Dinas Pekerjaan Umum) yaitu Jalan Kota.

Jadi, meski telah ditanggung asuransi, ada baiknya tak berurusan dengan klaim-klaim musibah yang terjadi di ranah publik. Alasannya, masalah mengurus proses birokrasi Indonesia tak semudah dari kenyataannya di lapangan. Barangkali imbauan kepolisian di berbagai spanduk, papan peringatan di jalan umum masih sangat relevan. “Jatuh di Aspal Tak Semanis Jatuh Cinta.” Seseorang harus sadar terhadap haknya saat mengalami musibah di ranah publik, dan tentunya membuka mata untuk lebih berhati-hati demi terhindar dari kecelakaan.

(Visited 16 times, 1 visits today)
author

Author: 

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.